(Cerita Rakyat
Sumatera Selatan)
Ada sebuah cerita Beteri dan Nenek.
Suatu hari Nenek mengajak Beteri pergi ke pulau untuk menggali ubi. Sesampai di
pulau. Beteri itu didudukkan oleh neneknya di atas batu besar, lalu nenek
berpesan, "Beteri, engkau jangan pergi ke mana-mana. Duduklah di sini,
nenek akan menggali ubi untuk makanan kita hari ini!"
Tak lama mulailah Sang Nenek menggali
ubi. Tanpa diketahui oleh neneknya batu besar tempat Beteri duduk itu bergerak,
bergeser. Beteri memanggil neneknya sambil bernyanyi. "Nek, nenek menggali
ubi, ubi digali dimakan ayam." Jawab nenek. "Cucuku. tunggu saja.
nenek tidak lama."
Tak lama kemudian batu itu bergeser
lagi. Beteri memanggil neneknya lagi, "Nek, nenek menggali ubi, ubi
dimakan ayam." Dijawab lagi oleh Neneknya, "Tunggu dulu cucuku, tidak
lama lagi."
Setelah itu batu tadi bergeser lagi
mendekati air. Beteri mengulangi lagi sambil memekik memanggil neneknya,
"Nek, nenek menggali ubi, ubi dimakan ayam." Sudah beberapa kali
Beteri memanggil neneknya. jawabannya sama seperti tadi. Akhirnya sampailah
batu besar tadi ke air.
Sesampai di air, rupanya batu besar tadi
adalah seekor naga yang besar sekali. Dibawalah Beteri itu ke pulau seberang
yang bernama Pulau Naga. Sementara itu nenek Beteri tadi sudah selesai menggali
ubi. tetapi betapa kecewanya ketika dilihatnya Beteri tidak ada lagi, sudah
hilang. Demikian pula batu tempat Bateri duduk pun sudah hilang. Nenek Bateri
mencari cucunya sambil meratap sedih,
"Beteri. Beteri. cucuku sayang ke
mana saja engkau?" Berulang-ulang Neneknya mencari. tetapi tidak bertemu. Setelah
lama mencari, tetapi tidak bertemu juga. Neneknya panik dan terjatuh tertusuk
kayu akhirnya meninggal dunia.
Beteri setelah sampai di Pulau Naga,
tidak dibunuh oleh naga yang besar itu, tetapi dipelihara karena ia itu ingin
makan hati Beteri. Akan tetapi, hati Beteri masih terlalu kecil sehingga ia
dipelihara saja dahulu oleh Naga itu.
Setiap Naga itu hendak pergi berburu,
Bateri menangis saja. Lain Naga bertanya, "Cucuku, mengapa engkau
menangis'?" Beteri menjawab, "Telingaku sakit." Karena melihat
Beteri menangis, lalu sang Naga memberikan anting-anting emas. Sesudah itu Sang
Naga berangkat berburu.
Setelah petang. Naga pulang membawa
rusa, hasil perolehan dari berburu. Lain rusa itu diberikannya kepada Beteri
untuk dimasak dan dimakan bersama-sama. Sehabis makan, Sang Naga bertanya
dengan Beteri, "Sudah sebesar apakah hatimu, Beteri?" Dijawab Beteri,
"Baru sebesar ujung lidi." Setiap menjawab pertanyaan Sang Naga,
Beteri berbohong saja karena dia sudah tahu bahwa naga itu ingin makan hatinva.
Selanjutnya Beteri mencari akal
bagaimana agar ia dapat keluar dari Pulau Naga ini. Kebetulan di seberang pulau
ada rebung bambu kuning. Setiap Naga itu pergi berburu, Beteri berpantun dengan
rebung itu, "Panjang-panjanglah bambu gading, antarkan saya ke
seberang!" Mendengar pantun Beteri, bambu gading itu memanjang sedikit. Setiap kali Beteri habis berpantun bambu
gading tadi memanjang lagi. Akhirnya, panjangnya sampai ke seberang, tempat
Beteri tinggal.
Seperti biasanya, setiap petang Naga
pulang membawa rusa hasil perolehannya berburu. Lalu disuruhnya Beteri memasak
rusa itu. Kemudian mereka makan bersama-sama. Sesudah makan. Naga bertanya
kepada Beteri, "Beteri, sudah sebesar apakah hati engkau hari ini?"
Beteri menjawab,"Baru sebesar biji sawi."
"Aduh, masih kecil sekali."
kata Naga. Sebelum Naga berangkat, seperti biasanya, Beteri menagis, katanya.
"Jari gatal, tangan gatal. leher gatal." Untuk membujuk Beteri yang
sedang menangis diberikanlah cincin, gelang, dan kalung.
Sesudah itu Sang Naga berangkat berburu.
Ketika hari petang Sang Naga pulang membawa hasil perolehannya berburu.
Disuruhnya Beteri memasak hasil buruannya. Kemudian mereka makan bersama-sama.
Selesai makan, Sang Naga bertanya lagi dengan Beteri. Katanya, "Sudah
sebesar apakah hatimu sekarang ini?" Beteri menjawab, "Sudah sebesar
asahan." "Wah, besar sekali." kata Naga.
Besok paginya Naga berpura-pura akan
pergi berburu, padahal dia berencana akan menyembelih Beteri. Ketika Sang Naga
pergi menemui teman-temannya. Beteri berkemas untuk meninggalkan Pulau Naga.
Sebelum meninggalkan rumah Naga, Beteri menyiramkan air sirih ke dalam rumah
supaya Sang Naga berprasangka bahwa Beteri sudah disembelih oleh Naga lainnya.
Setelah itu Beteri pergi naik bambu gading meninggalkan Pulau Naga. Sesampai di
seberang, bambu gading tadi dipotong oleh Bateri supaya tidak diketahui oleh
Naga.
Sementara itu, Sang Naga dan
teman-temannya pulang. Alangkah terkejutnya Sang Naga dan teman-temannya ketika
tiba di rumah. Beteri sudah tidak ada lagi, dan rumah berhamburan dengan darah.
Sang Naga berkata dengan teman temannya itu, "Kita sudah didahului oleh
yang lain, lihat darah berhamburan." Melihat darah berhamburan tadi, teman
teman Sang Naga pergi sambil marah-marah karena mereka merasa ditipu oleh Sang
Naga.
Sesampai di seberang, ketika Beteri
hendak pulang ke rumahnya. di tengah jalan menuju ke dusun dia bertemu dengan
kerbau. Lalu kerbau berteriak menyampaikan berita ibu dan bapak Beteri. Kata
kerbau, "Wak, wak Beteri sudah pulang." lbu dan bapak Beteri selama
ini tidak mau beranjak dari tempat tidurnya karena memikirkan Beteri. Mereka keluar
mendengar berita yang dibawa oleh kerbau. Kemudian ibu Beteri berkata.
"Sudahlah kerbau jangan pembohong, Beteri tidak akan kembali, dia sudah
meninggal."
Di perjalanan ketika akan pulang. Beteri
bertemu dengan ayam. Ayam berkokok menyampaikan berita dengan bapak dan ibu
Beteri. Hanya tanggapan bapak dan ibu Beteri sama seperti menanggapi kabar yang
dibawa oleh kerbau tadi'.
Tak lama Beteri sampai di rumah,
dilihatnya ibu dan bapaknya telah kurus sekali, badannya tidak terawat. Sampai-sampai
tikar tempat tidur ditumbuhi rumput tak dirasakannya lagi karena memikirkan
Beteri. Bapak ibunya kemudian terjaga melihat Beteri benar-benar pulang.
Mereka bertangisan, sangat terharu dan
gembira karena bertemu kembali dengan anaknya yang disangkanya mati, mereka
dimandikan oleh Beteri. Setelah mandi, badan mereka segar dan sehat kembali
karena anak mereka sudah pulang, dan sudah menjadi seorang gadis yang cantik,
berpakaian bagus, dan memiliki banyak perhisan emas.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar