- 2 ikat besar kangkung.
- 2 sendok makan minyak sayur.
- 2 siung bawang putih, cincang halus.
- 4 cabe merah, potong serong tipis.
- 5 buah baso sapi, iris tipis.
- 2 buah tahu putih, hancurkan.
- 2 sendok teh tauco.
- 2 sendok makan kecap manis.
- 100 ml air.
- 1 sendok makan tepung maizena, larutkan dengan 1 sendok makan air.
- 10 butir telur puyuh, rebus.
Jumat, Desember 30, 2011
Kangkung Cah Spesial
Bahan :
Ayam Orak Arik
Bahan :
- 1/4 kilo ayam, di cincang
- 1 batang wortel, parut kasar
- 1/4 bagian kol, iris halus
- 2 butir telur, masak orak-arik, sisihkan
- air secukupnya
- minyak goreng secukupnya
Kali Gajah Wong
(Dongeng
Rakyat Yogyakarta)
Dalam kisah disebutkan,
Kerajaan Mataram pernah berpusat di Kotagede, kurang lebih 7 kilometer arah
tenggara kota Yogyakarta. Pada waktu itu Kerajaan Mataram dipimpin oleh Sultan
Agung yang mempunyai beribu-ribu prajurit, termasuk pasukan berkuda dan pasukan
gajah. Kanjeng sultan juga mempunyai abdi dalem-abdi dalem yang setia. Di
antara abdi dalem itu terdapat seorang srati, bernama Ki Sapa Wira.
Asal Mula Danau Laut Tawar
(Dongeng Rakyat Nangroe
Aceh Darussalam)
Alkisah
dulu di Takengon pernah ada sebuah kerajaan, tidak diketahui secara jelas apa
nama kerajaannya tapi yg pasti dikerajaan itu ada seorang putri yg bernama
Putri Pukes.
Putri
Pukes mencintai seorang pria dari kerajaan lain tapi hubungan mereka tidak
disetujui oleh orang tua Putri Pukes. Tapi sang putri tetap teguh dengan
keinginannya sehingga akhirnya terjadilah pernikahan.
Kamis, Desember 29, 2011
Asal Mula Selat Bali
(Cerita Rakyat Bali)
Pada jaman dulu di kerajaan Daha hiduplah seorang Brahmana
yang benama Sidi Mantra yang sangat terkenal kesaktiannya. Sanghyang Widya atau
Batara Guru menghadiahinya harta benda dan seorang istri yang cantik. Sesudah
bertahun-tahun kawin, mereka mendapat seorang anak yang mereka namai Manik
Angkeran.
Semangka Emas
(CERITA RAKYAT
MELAYU SAMBAS)
Pada zaman dahulu kala, di Sambas
hiduplah seorang saudagar yang kaya raya. Saudagar tersebut mempunyai dua orang
anak laki-laki. Anaknya yang sulung bernama Muzakir, dan yang bungsu bernama
Dermawan. Muzakir sangat loba dan kikir. Setiap hari kerjanya hanya
mengumpulkan uang saja. Ia tidak perduli kepada orang-orang miskin. Sebaliknya
Dermawan sangat berbeda tingkah lakunya. Ia tidak rakus dengan uang dan selalu
bersedekah kepada fakir miskin.
Sebelum meninggal, saudagar tersebut
membagi hartanya sama rata kepada kedua anaknya. Maksudnya agar anak-anaknya
tidak berbantah dan saling iri, terutama bila ia telah meninggal kelak.
Rabu, Desember 28, 2011
Kancil dan Buaya
Suatu hari kancil sedang kelaparan mencari-cari mentimun.
Dimana-mana dia tidak menemukan mentimun yang siap dimakannya. Selalu
ditemuinya kebun yang usai dipanen, atau kebun yang berisi mentimun-mentimun
yang masih terlalu muda. Sambil berjalan dengan gontai, kancil akhirnya bertemu
dengan Kodi si Kodok kecil.
"Kenapa kancil berjalan gontai sekali?" tanya Kodi
"Aku lapar sekali Kodi. Dari tadi mencari mentimun tidak pernah
dapat. Engkau tahu tidak, tempat yang banyak mentimunnya?" tanya Kancil
kepada Kodi.
"Eeeeee, aku tahu. Tapi aku tidak yakin engkau bisa ke
sana" jawab Kodi.
Ketabahan Barensyah
(Cerita Rakyat Nangroe Aceh Darussalam)
Dahulu, di sebuah gubuk kecil pada tengah sawah, tinggallah seorang janda miskin dengan anaknya yang bernama Banta Barensyah. Dinding gubuk itu terbuat dari bambu dan beratap ilalang. Pakaiannya sudah bertambal-tambal dan hanyalah yang melekat dibadannya saja. Untuk menyambung hidup, sehari-hari janda itu menampi sekam di sebuah kincir padi. Kadangkala janda ini mendapat segenggam atau dua genggam beras. Beras inilah yang ditanak di gubuk. Banta Barensyah membantu ibunya mengumpulkan sekam yang belum ditampi.
Sebenarnya Ibu Barensyah mempunyai seorang saudara yang kaya raya, Jakub namanya. Jakub seorang saudagar yang sangat kaya di kampung itu. Namun sayang ia loba dan tamak. Pada suatu hari, karena tidak ada orang menumbuk di kincir padi, maka Banta Barensyah dan ibuya tak dapat menampi sisa-sisa beras. Jadi hari itu tidak ada yang masak. Banta Barensyah bermaksud pergi ke rumah pamannya, Jakub.
"Jangan anakku, dia sudah tidak mau mengakui kita sebagai saudara," ibunya memperingatkan.
Dahulu, di sebuah gubuk kecil pada tengah sawah, tinggallah seorang janda miskin dengan anaknya yang bernama Banta Barensyah. Dinding gubuk itu terbuat dari bambu dan beratap ilalang. Pakaiannya sudah bertambal-tambal dan hanyalah yang melekat dibadannya saja. Untuk menyambung hidup, sehari-hari janda itu menampi sekam di sebuah kincir padi. Kadangkala janda ini mendapat segenggam atau dua genggam beras. Beras inilah yang ditanak di gubuk. Banta Barensyah membantu ibunya mengumpulkan sekam yang belum ditampi.
Sebenarnya Ibu Barensyah mempunyai seorang saudara yang kaya raya, Jakub namanya. Jakub seorang saudagar yang sangat kaya di kampung itu. Namun sayang ia loba dan tamak. Pada suatu hari, karena tidak ada orang menumbuk di kincir padi, maka Banta Barensyah dan ibuya tak dapat menampi sisa-sisa beras. Jadi hari itu tidak ada yang masak. Banta Barensyah bermaksud pergi ke rumah pamannya, Jakub.
"Jangan anakku, dia sudah tidak mau mengakui kita sebagai saudara," ibunya memperingatkan.
Langganan:
Postingan (Atom)